Saat Lynx melompat dengan cepat melewati pohon-pohon, ia tidak bisa menahan senyumnya. Kekuatan baru ini memberinya rasa percaya diri yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Namun saat itu juga dia baru menyadari bahwa kulitnya terasa lengket dan bau menyengat. "Apa ini? kenapa rasanya tubuhku menjadi sangat bau. Apakah ini efek obat itu ?" Lynx merinding memikirkan bagaimana jika Leena tidak mau mendekatinya.

Lynx tidak mengetahui jika efek yang dirasakan adalah pembersihan pada tubuhnya, zat-zat beracun dalam tubuhnya keluar karena efek pembersihan tersebut. Namun Lynx segera mengalihkan perhatiannya untuk menghadapi Monrest dan menyelamatkan semuanya.

“Aku bisa melakukan ini,” pikirnya dengan semangat. “Aku bisa menghadapi Kargo. Aku bisa menghentikan Monrest. Aku... aku bisa menyelamatkan mereka.”

Lynx melompat dari pohon terakhir, mendarat dengan mulus di tanah di tepi jurang. Ia berhenti sejenak, menoleh ke arah bawah jurang di mana Karim masih menunggu.

“Tunggu aku di sini, Karim. Aku akan kembali dengan adikmu,” katanya pelan, meskipun ia tahu Karim tidak bisa mendengarnya.

Lynx menatap hutan di depannya, matanya penuh dengan tekad. Ia menggenggam tangannya erat, merasakan energi yang mengalir di tubuhnya.

“Kargo, kau pikir kau sudah menang? Kau salah besar.”

Setelah mengambil sebuah tombak dari salah satu mayat suku Monrest yang ditinggal, Lynx dengan kecepatan luar biasa mulai berlari melalui hutan, melompati akar-akar besar dan rintangan dengan mudah. Ia tahu tujuan utamanya—Leena, Sherly, dan Aliah sedang menunggunya. Dan kali ini, ia tidak akan gagal.

“Tunggu aku, Leena,” pikirnya dengan senyum tipis. “Aku datang. Aku akan menyelamatkan kalian semua.”

Sementara itu di tengah perjalanan rombongan Monrest, Kargo berdiri di depan para tawanan, wajahnya penuh kemenangan. Ia memegang sebuah parang besi dengan bilah tajam yang ia ambil dari pertempuran sebelumnya. Parang itu memantulkan sinar matahari, memamerkan kilaunya yang tidak biasa.

Kargo memandang parang itu dengan penuh kagum, lalu berbalik ke arah anak buahnya. “Lihat ini!” serunya, mengangkat parang itu tinggi-tinggi. “Senjata ini tidak seperti tombak dan pedang yang biasa kalian gunakan. Ini adalah senjata dari dunia lain. Kuat, tajam, dan mematikan!”

Anak buahnya mulai berbisik di antara mereka sendiri, beberapa terlihat kagum, sementara yang lain tampak bingung.

Salah satu prajurit memberanikan diri maju. “Kepala, apa itu benar-benar lebih hebat dari senjata kita?”

Kargo mendengus, menarik seorang prajurit ke depan. “Bawa tombakmu ke sini!” perintahnya.

Saat prajurit itu memberikan tombaknya, Kargo dengan santai menebasnya menggunakan parang. Dalam sekali tebas, tombak itu terpotong menjadi dua, meninggalkan semua orang ternganga.

“Kalian lihat sendiri!” teriak Kargo dengan nada bangga. “Dengan senjata ini, aku tidak terkalahkan! Aku akan memimpin kalian, bukan hanya melawan suku-suku kecil, tapi juga menguasai seluruh pulau ini!”

Kargo sering kali menatap parang di tangannya dengan ekspresi haus kekuasaan. “Dengan ini, aku bukan hanya kepala pasukan... Aku akan menjadi kepala seluruh suku Monrest.”

Ia mengarahkan pandangannya ke arah anak buahnya yang membawa tombak dan panah dengan mata besi hasil rampasan. Setelah pertempuran, Kargo memerintahkan anak buahnya untuk mengambil semua senjata musuhnya karena memiliki bahan yang sama.

Lalu Ia berhenti sejenak dan berkata kepada seluruh anak buahnya. "Semua senjata kita sebelumnya tidak ada artinya dibandingkan senjata yang kita miliki saat ini. Tapi kita butuh senjata lebih banyak dari ini jika ingin menguasai pulau sepenuhnya."

Ia menunjuk ke arah para tawanan, terutama Leena, Sherly, dan Aliah. "Tanyakan nanti pada mereka dari mana bocah itu mendapatkan senjatanya. Jika mereka tidak bicara... kita buat mereka bicara."

Saat Kargo dan anak buahnya terus bergerak, Sherly yang berjalan di barisan tawanan memperhatikan dengan cermat. Dalam benaknya, ia melihat peluang untuk menyelamatkan diri sendiri, meskipun itu berarti mengkhianati yang lain.

Sherly mendekat ke Kargo, meskipun tangannya masih terikat. Ia tersenyum kecil, mencoba terlihat ramah. "Tuan Kargo, aku bisa memberimu informasi tentang senjata itu."

Kargo berhenti, memutar tubuh besar dan menatap Sherly dengan curiga. "Informasi apa yang bisa diberikan oleh seorang wanita lemah sepertimu?"

Sherly tersenyum lebih lebar, meskipun dalam hatinya ia merasa ngeri pada pria besar di depannya. "Aku tahu lebih banyak tentang Lynx daripada siapapun. Jika kau mau melepaskanku... aku bisa membantumu mendapatkan bahan untuk membuat senjata itu."

Kargo mendengus, langkah beratnya mendekat ke Sherly hingga jarak mereka hanya beberapa inci. "Dan kenapa aku harus percaya pada pengkhianat? Apa yang kau harapkan dariku? Kasihan?"

Sherly menelan ludah, mencoba menjaga senyumnya tetap utuh. "Aku hanya ingin membantu. Aku tidak peduli apa yang terjadi pada mereka..." ia melirik Leena sekilas, "...yang penting aku selamat." Katanya sambil bergaya menggoda.

Namun, alih-alih menerima tawarannya, Kargo tertawa keras. Ia mengangkat kakinya dan menendang Sherly hingga tubuhnya terhempas ke tanah.

"Kau pikir aku butuh tawanan seperti kau untuk mendapatkan apa yang aku inginkan?" ujar Kargo dengan jijik. "Aku tidak percaya pada pengkhianat. Sekarang tetap di tempatmu, atau aku akan membuangmu ke jurang seperti bocah itu!"

Sherly terbatuk pelan, wajahnya merah oleh malu dan amarah. Ia menunduk, menyembunyikan tatapan bencinya kepada Kargo dan Leena. "Bangsat besar ini... aku akan mencari cara untuk menghancurkanmu suatu hari nanti," pikirnya.

Lynx melompat dari pohon terakhir, tubuhnya mendarat dengan mulus di tengah jalan setapak hutan, menghadang rombongan Monrest yang terus bergerak. Ia berdiri tegap, tombak rampasan di tangannya, ujungnya diarahkan ke depan seperti peringatan.

Para tawanan, termasuk Leena dan Sherly, berhenti di tempat mereka. Mata mereka melebar melihat sosok yang seharusnya telah mati di dasar jurang.

"Lynx?" bisik Leena dengan suara gemetar, air mata mengalir tanpa henti dari wajahnya.

Sherly, biasanya dingin dan keras, kini tampak terkejut. "Lynx! Kau hidup?" katanya dengan nada tinggi, campuran keterkejutan dan rasa frustasi yang ia sembunyikan.

Lynx menoleh ke arah mereka, memberikan senyuman tipis. "Aku bilang aku akan kembali, bukan?" katanya dengan penuh keyakinan.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Sebuah suara geraman rendah menggelegar, dan Kargo melangkah maju dari barisan depan, tubuh besar dan wajah garangnya mencuri perhatian semua orang. Di tangannya, parang rampasan dengan bilah besar yang bersinar diterangi sinar matahari.

"Kau lagi," kata Kargo dengan suara dalam yang penuh kebencian. "Kau seharusnya mati di dasar jurang."

Lynx mengangkat tombaknya sedikit, memandang Kargo dengan tatapan tajam. "Kau salah besar. Aku tidak akan mati sebelum menyelamatkan mereka semua... dan mengalahkanmu."

Kargo tersenyum bengis, mengayunkan parang di tangannya seolah memamerkan kekuatannya. "Kau pikir kau punya kesempatan melawan aku? Aku adalah pemimpin sejati. Kau hanya seorang bocah kecil yang kebetulan punya keberuntungan."

Dengan suara lantang, ia melambaikan tangannya kepada anak buahnya. "Tangkap dia! Habisi dia sekarang juga!"

Puluhan anggota Monrest langsung berlari ke arah Lynx, tombak kayu mereka terangkat. Lynx tetap tenang, merasakan energi baru di tubuhnya. Dunia di sekitarnya terasa melambat, setiap gerakan musuh tampak jelas seperti rekaman yang diputar lambat.

Saat serangan pertama datang, Lynx melompat ke samping, tubuhnya bergerak seperti bayangan. Tombak musuh menghantam tanah kosong, sementara Lynx meluncur rendah, menggunakan ujung tombaknya untuk menjatuhkan kaki dua musuh sekaligus.

“Apa ini?! Dia tidak seperti sebelumnya!” seru salah satu Monrest, terkejut melihat kecepatan Lynx.

Lynx terus bergerak, tubuhnya seperti aliran air yang tidak bisa ditangkap. Ia melompat tinggi, hinggap di salah satu cabang pohon, lalu turun dengan gerakan cepat, memukul keras kepala musuh yang mencoba menyerangnya dari belakang.

“Terlalu lambat,” ejek Lynx sambil memukul keras kepala musuh itu hingga pingsan.

Satu per satu, para Monrest jatuh. Beberapa mencoba menyerang Lynx bersamaan, tetapi ia dengan mudah menghindari setiap pukulan dan tebasan. Dengan gerakan gesit, ia menyerang titik-titik lemah mereka, menjatuhkan mereka tanpa memberikan kesempatan untuk melawan.

Leena menyaksikan dengan mata membelalak. "Dia... dia bahkan lebih cepat dari sebelumnya," gumamnya, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Sementara Sherly menyaksikan pertarungan itu dengan perasaan campur aduk. “Lynx... bagaimana dia bisa melakukan itu?” Sherly berbisik, matanya melebar oleh keterkejutan.

Leena menggenggam tali pengikat di tangannya, mencoba menahan air matanya. “Itu pasti karena pil yang aku berikan kepadanya. Aku tidak tahu apa yang terkandung di dalamnya, tetapi jelas itu telah mengubahnya.”

Sherly menoleh ke Leena. “Kau melakukan itu? Kau memberinya sesuatu yang... yang membuatnya menjadi seperti ini?”

Leena hanya mengangguk, meskipun pikirannya masih dipenuhi kekhawatiran. “Aku hanya berharap itu tidak membahayakan dia...”

Saat Lynx menjatuhkan musuh terakhirnya, Kargo menggeram marah. Tubuh besarnya bergerak maju, mengibaskan tangannya ke arah pasukannya yang tersisa.

“Dasar pengecut! Tidak ada satupun dari kalian yang mampu menangani dia?!”

Kargo mengangkat parangnya dan berjalan mendekati Lynx. “Kalau begitu, aku sendiri yang akan menyelesaikan ini.”

Lynx menatap Kargo dengan santai sambil menurunkan tombaknya sedikit, bersiap menghadapi musuhnya. “Kau sebaiknya berhati-hati. Aku tidak seperti yang kau lawan sebelumnya.”

Kargo tertawa sinis, melangkah mendekat. “Kau hanya seorang bocah yang kebetulan punya keberuntungan. Tapi sekarang, kau akan merasakan apa artinya melawan seorang pemimpin sejati! Apa kau pikir kemampuan kecilmu bisa mengalahkan aku? Aku telah memimpin seratus pertempuran dan menang!”

Tanpa menunggu jawaban, Kargo menyerang lebih dulu, mengayunkan parang besar itu dengan kekuatan penuh. Lynx melompat ke samping, menghindari tebasan mematikan yang membelah tanah tempat ia berdiri sebelumnya. Lalu Kargo kembali menyerang dengan parangnya, mencoba menusuk dada Lynx. Tapi Lynx bergerak cepat, menghindari serangan itu dengan mudah. Ia melompat ke samping, bahkan sebelum parang itu mendekatinya.

“Apa kau lambat seperti ini untuk semua lawanmu?” ejek Lynx sambil meluncur mundur.

Kargo menggeram, menyerang lagi dengan tebasan horizontal yang memotong udara. Tapi Lynx melompat ke atas, mendarat di cabang pohon sebelum berbalik dan melompat ke arah Kargo dengan tendangan kuat.

Tendangan itu mengenai bahu Kargo, membuatnya terhuyung.


